Hadits di atas memerintahkan
agar kita senantiasa berbuat baik pada kerabat terutama adalah ibu, lalu
ayah. Didahulukannya ibu karena ia telah mengandung, menyusui, mendidik
dan tugas berat lainnya. "Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar
berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya
dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya setelah dua
tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada
Aku kembalimu (Q.S. Luqman:14). Karena beratnya tugas orang tua, maka
seorang anak diwajibkan untuk memperlakukan mereka dengan baik, bahkan
membantahnya dengan kata-kata "Ah" pun tidak diperkenankan.
Pengorbanan seorang ibu tidak
dapat diukur dengan materi. Ketika melahirkan kita, ia berkorban darah
dan berjuang antara hidup dan mati, bahkan ada ungkapan yang menyatakan
andai pada saat-saat kritis melahirkan kita, seorang ibu diminta untuk
memilih antara nyawanya dengan nyawa anaknya, maka seorang ibu akan
memilih menyelamatkan anaknya dari nyawanya sendiri. Ia rela menaggung
rasa sakit sembari menyusui anaknya dengan ikhlas. Selanjutnya ia
mengasuh dan mendidik kita hingga dewasa. Pada bulan Ramadhan ini, bagi
kita yang masih tinggal bersama Ibu, ketulusan dan kebaikannya sangat
terasa. Disaat kita masih terlelap tidur, ia telah menyiapkan makanan
sahur untuk kita, disaat kita santai sore ia telah menyiapkan buka
puasa. Begitupun seorang ayah, demi masa depan anak-anaknya, ia berusaha
menafkahi keluarga dengan sebaik-baiknya dengan daya dan upaya yang
maksimal. Terlepas semua itu sebagai kewajiban orang tua, kita wajib
menghargai mereka dengan sebaik-baiknya. Rasulullah SAW pernah bertanya
pada para sahabat: "Maukah aku beritahu dosa yang paling besar di antara
dosa-dosa yang besar?" Para sahabat menjawab: "Mau, ya Rasulullah!"
Beliau berkata: "Syirik kepada Allah, durhaka kepada orang tua". Di
masyarakat kita dikenal petuah Ridha Allah tergantung pada Ridha Orang
tua. Bahkan mendahulukan keperluan ibu lebih baik dari melaksanakan
shalat sunnah. Sehingga wajar jika "surga itu di bawah telapak kaki ibu"
karena durhaka kepada orang tua merupakan dosa paling besar setelah
syirik yang tentunya akan menghalangi pelakunya masuk surga.
"Surga di bawah telapak kaki
ibu" Apakah hanya berarti bahwa jika ingin masuk surga seorang anak
harus berbuat baik pada ibu bapak?. Tidak!, pada sosok seorang ibu juga
melekat tanggung jawab yang berat. Jika kita artikan secara bebas,
"surga di bawah telapak kaki ibu" dapat juga berarti bahwa masa depan
seorang anak di akhirat nanti sangat tergantung pada ibu, ibu sebagai
seorang pendidik, ibu sebagai seorang suri tauladan keseharian bagi
anak-anaknya, sehingga seorang ibu sangat berperan dalam mengantarkan
mereka masuk surga. Lalu mengapa "surga di bawah telapak kaki ibu" bukan
telapak tangan ibu atau di kepala ibu? Secara tersirat kaki berarti
tindakan dan tingkah laku (akhlaq). Artinya, akhlaq seorang ibu sangat
mempengaruhi akhlaq seorang anak dan akhlaq inilah yang akan menentukan
masa depanya di dunia dan di akhirat. Wajarlah jika Rasulullahh SAW
berpesan pada setiap orang tua: "Tiada yang ditanam oleh orang tua
kepada anaknya yang lebih baik daripada akhlaq yang mulia". Lingkungan
pertama yang berperan penting menjaga keberadaan anak adalah keluarga
sebagai lembaga pendidikan yang paling dominan secara mutlak, kemudian
kedua orangtuanya dengan sifat-sifat yang lebih khusus. Pada orang tua,
terlebih lagi pada diri seorang ibu melekat kewajiban untuk mendidik
secara aktif putra-putrinya. Anak telah menghabiskan waktu sembilan
bulan di dalam perut ibunya, memperoleh makanan dari tubuh, ruh dan
darah ibunya, maka ibu sebagai pihak yang paling dekat dengan anak
hendaknya tidak melewatkan interaksi kesehariannya dengan sang anak
dalam konteks pendidikan.
Orang tua hendaknya mengajarkan
bagaimana mengenal dan mencintai Allah, mengajari ibadah, dan menanamkan
akhlaq yang mulia. Karena "sesungguhnya setiap bayi yang lahir dalam
keadan fitrah, kedua orang tuanyalah yang mencetak anak itu menjadi
Yahudi, Nasrani, atau menjadi Majusi" (HR. Bukhari Muslim). Dalam hal
pembentukan akhlaq, prinsip dan pemikiran moral harus didasarkan pada
aqidah Islam. Atas dasar inilah ibu hendaknya berusaha menguatkan
bangunan moral, ketaqwaan, dan kesucian pada diri anak sehingga
mengantarkan mereka bahagia di dunia dan akhirat. Rasulullah SAW pernah
bersabda: "Dan wanita adalah pemimpin terhadap keluarga rumah tangga
suaminya dan anak-anaknya, dan akan diminta pertanggungjawaban tentang
mereka" (HR. Bukhari Muslim).
Cahyadi Takariawan dalam bukunya
"Agar Cinta Menghiasi Rumah Tangga Kita" memberikan bahan renungan dan
evaluasi kepada kita sebagai orang tua dalam mendidik anak. Apakah kita
telah mendidik anak sejak dalam kandungan? Apakah kita telah
memperdengarkan kalimat tauhid ketika anak kita lahir? Apakah kita telah
meluangkan waktu rutin untuk mendidik mereka? Sudahkah kita memberikan
keteladanan positif pada mereka, atau justru membiarkan mereka
menjadikan televisi sebagai tauladan? Apakah kita telah menanamkan nilai
keimanan sejak mereka kecil? Sudahkah kita mengajari mereka membaca
Al-Qur’an dengan baik? Yakinkah kita bahwa mereka telah mampu
menjalankan shalat dengan sempurna? Apakah kita telah memilihkan sekolah
terbaik bagi masa depan mereka di dunia dan akhirat? Apakah kita telah
memberi mereka tauladan untuk membaca buku ilmu pengetahuan dan
teknologi? Apakah kita telah mendidik mereka untuk mencintai Allah dan
Rasulnya lebih dari segalanya?
Begitu berat tugas orang tua
terutama ibu dalam mendidik anak. Sehingga diperlukan seluruh potensi
kebaikan pada diri ibu, diperlukan pengetahuan dan pengetahuan praktis
tentangnya. Ibu, sebagaimana juga ayah, perlu mengetahui prinsip dasar
pendidikan anak, baik yang bersifat fundamental dalam syariat Islam
maupun ilmu pengetahuan umum yang terus berkembang. Semoga kita semua
dapat menjadi orang tua yang menjadi tauladan bagi generasi muslim
selanjutnya. "Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya manusia dan batu" (Q.S. At-Tahrim:6) "Surga di bawah telapak
kaki ibu". Pada diri ibu terletak tanggungjawab besar mengantarkan
anaknya ke surga dengan memberikan pendidikan terbaik. Ibu adalah
tauladan, ibu adalah contoh sempurna dalam akhlaq dan tindakan.
Kebahagiaan dan kesengsaraan anak baik di dunia maupun di akhirat sangat
dipengaruhi oleh sosok seorang ibu. Semoga Allah memberikan balasan
yang berlipat ganda atas keikhlasan seorang ibu yang telah mengandung,
melahirkan, menyusui, dan mendidik putra-putrinya. Wallahu a’alm
bisshawab.

0 komentar:
Posting Komentar